top of page
Search

Dari Tanah Lapang Menuju Perkotaan: Sebuah Historiografi Pemukiman Baciro dari Masa ke Masa.

  • Writer: KKN Unit Gondokusuman
    KKN Unit Gondokusuman
  • Aug 9, 2022
  • 5 min read

Updated: Aug 12, 2022

Dhita Fitria Hernawati - Redaktur Buletin Daring Goksnesia.


Asal Mula Kampung Baciro: Toponimi dan Sejarah Mentalitas


Kampung Baciro merupakan wilayah bagian dari Kelurahan Baciro, Gondokusuman, Yogyakarta. Kampung ini terdiri dari empat rukun warga, diantaranya adalah RW 08, RW 09, RW 10, dan RW 21. Dalam lintasan sejarah, nama Kampung Baciro lahir dari Têmbung Kawi Mawi Têgêsipun (1928), lemah Baciro yang diartikan sebagai alun-alun atau plataran luas. Oleh karenanya, Baciro dahulunya merupakan lapangan luas yang kemudian dijadikan hunian oleh masyarakat Yogyakarta. Hal ini seperti catatan sastra yang ditulis T.G.T Pigeaud (1953) dan Hadisusastra (1917), bahwa Baciro merupakan tanah lapang yang kemudian didirikan sebuah pemukiman baru. R. Saparjo Sastrosasmito adalah orang pertama kali yang menyebut daerah hunian baru ini dengan sebutan Baciro.


Dalam versi lain, menurut sejarah mentalitas masyarakat Baciro, pada tahun 1929 di daerah Alun-Alun Utara Kraton Yogyakarta akan diadakan Jaarbeurs. Jaarbeurs merupakan acara pameran tahunan dan pasar malam pada masa kolonial. Perhelatan ini, awalnya dilaksanakan di kota-kota besar seperti Bandung dan Batavia. Akan tetapi, lama-kelamaan kegiatan ini dilaksanakan di daerah vorstenlanden. Kegiatan ini berisi tentang hiburan seperti pasar malam. Maka dari itu, penduduk yang mendiami sekitar alun-alun dipindahkan ke tempat yang lebih lapang. Atas persetujuan Sri Sultan Hamengku Buwono VII yang disampaikan kepada Gubernur Jasper Bank, penduduk setempat dipindahkan ke Kampung Baciro yang waktu itu hanya seluas 3,5 ha. Wilayah yang diberikan terletak di selatan Centraale Werkplaat Nederlansch-Indisch Spoorweg (Balai Yasa). Pemukiman ini kemudian diresmikan oleh Asisten Residen Zwenke pada 7 Januari 1929.


Kampung Baciro dalam Lintasan Sejarah


Sebelum adanya Kampung Baciro, wilayah ini telah terdapat pemukiman bumiputera di daerah Masjid Sanyoragi sejak 1920. Setahun kemudian didirikan sebuah pabrik cerutu (sigarettenfabriek) N.V. Negresco. Pada tahun 1929, seperti yang telah disebutkan di atas Kampung Baciro mulai didirikan. Hal ini didasarkan akan dilaksanakannya acara Jaarbeurs di Alun-Alun Utara Kraton Yogyakarta. Dengan demikian, perlu dipindahkannya warga setempat ke daerah pemukiman baru. Pada akhirnya warga tersebut dipindahkan di tanah lapang di selatan Centraale Werkplaat Nederlands Indisch Spoor Maatschapij (Balai Yasa sekarang). Pemukiman ini awalnya hanya khusus untuk warga dan abdi dalem yang sebelumnya telah menempati tempat tinggal di daerah Paseban Yogyakarta. Di tahun 1930-an, pemukiman Baciro semakin berkembang.


Gambar 1. Peta Kota Yogyakarta Tempo Doeloe.


Perkembangan Pemukiman Baciro


Setelah diresmikan pada 7 Januari 1929 menjadi daerah hunian, menjadikan Kampung Baciro semakin berkembang menuju pemukiman yang modern. Dalam pola perkembangan pemukiman Baciro ini dibagi dalam tiga periode pemukiman, di antaranya ialah pemukiman untuk warga bumiputera, pemukiman Baciro Lama, dan pemukiman Baciro Baru.

A. Pemukiman untuk Warga Bumiputera


Pada periode ini terjadi sebelum diresmikannya Kampung Baciro pada 1929. Periode tersebut diawali dengan pemukiman sederhana berupa rumah tinggal dan tempat peribadatan, berupa Masjid Sanyoragi. Rumah tersebut berarsitektur Jawa. Pemukiman sederhana ini menggambarkan sebuah pemukiman tradisional yang memiliki pengaruh budaya islam. Pada dasarnya pengaruh budaya islam tersebut merupakan sebuah transisi dari dunia tradisional menuju kondisi yang baru. Sebuah era baru yang nantinya akan berlanjut pada era kolonial modern.


B. Pemukiman Baciro Lama


Periode ini dimulai setelah Kampung Baciro diresmikan, tepatnya pada 1933. Konsep kota kolonial kemudian melekat dalam pola perkembangan pemukiman Baciro Lama. Hal ini disebabkan oleh kehadiran orang-orang Eropa yang terus menerus bertambah, perluasan sistem pemerintahan dengan didukung oleh kelengkapan sistem birokrasi, kemajuan industri gula, dan dibukanya Terusan Suez yang memperpendek jarak antara Belanda dan Indonesia sehingga menyebabkan perubahan wajah kota serta pembangunan-pembangunan terus dilakukan di pusat kota misalnya pemukiman. Secara umum, kota kolonial memiliki fakta bahwa mempunyai bagian dari penduduk dan pendatang.


Pemukiman pada masa ini bergaya arsitektur indis. Hal tersebut diselaraskan dengan penghuni rumah yang kebanyakan adalah orang Eropa. Mereka yang dahulunya sering tinggal di daerah subtropis sehingga memerlukan sirkulasi udara yang lebih dingin. Oleh karenanya, dibutuhkan dinding rumah yang tinggi, bangunan jendela yang besar serta banyak, dan dalam hal vegetasi. Banyak pepohonan yang ditanam di wilayah kota kolonial ini. Selain itu, ciri lain dari bangunan indis adalah terletak pada plafon yang tinggi guna kemungkinan suhu panas akibat radiasi dapat diperkecil, pintu bentuk kupu tarung, overstek yang cukup lebar untuk digunakan sebagai beranda rumah. Tujuan dibuatnya overstek yang lebar ini juga untuk menahan air hujan dan paparan sinar matahari secara langsung. Bangunan dengan ciri tersebut, banyak ditemukan di Jalan Kantil dan Jalan Anggrek. Berhubung Kampung Baciro berdiri pada tahun 1929, maka masyarakat pendukung kebudayaan indis yang berada di Baciro adalah mereka orang Eropa dan Indo. Selain itu, juga ada bumiputera yang telah masuk sebagai pendukung kebudayaan indis, mereka adalah orang-orang priyayi profesional.


Jika melihat sekitar wilayah Kampung Baciro di Jalan Kantil, terdapat boulevard sebagai ciri khas arsitektur kolonial. Orang Eropa sebagai pendukung kebudayaan indis, boulevard berfungsi sebagai aktivitas sosial masyarakat, seperti tempat bermain selain pergi ke gedung sociteit, bersantai, dan berkumpul. Kegiatan di boulevard ini menandakan adanya unsur prestise untuk membedakan kaum Eropa dengan kaum bumiputera.


Gambar 2. Boulevard Taman Kantil

Gambar 3. Bangunan Indis RW 09


Lingkungan orang Eropa selalu memperhatikan kebersihan dan kesehatan. Maka dari itu, dibuat sarana drainase, assainerring yang berguna sebagai saluran kotoran rumah tangga. Dengan demikian, kawasan ini terhindar dari limbah kotoran dan penyakit. Pada periode ini, orang Eropa sangat memperhatikan kesehatannya karena masih banyak wabah yang sering menjangkiti masyarakat Yogyakarta.


Kampung verbetering atau perbaikan kampung memang diperhatikan pada 1930-an. Berdasarkan berita-berita koran sezaman, disampaikan bahwa banyak dilakukan perbaikan seperti akses jalan dan penerangan lampu jalan di wilayah Kampung Baciro.


A. Pemukiman Baciro Baru


Pemukiman Baciro Baru ini lahir ketika Indonesia mulai merdeka di tahun 1945. Pabrik cerutu Negresco mulai dinasionalisasi oleh pemerintah menjadi PD Taru Martani. Pada masa ini, disebut sebagai periode revolusi. Kota Yogyakarta menjadi tempat ibukota sementara, maka dari itu pemukiman yang dahulunya digunakan oleh orang-orang Eropa kemudian dihuni oleh jawatan pemerintahan ibukota sementara. Namun, ada juga perumahan yang baru dibangun ketika periode revolusi ini. Rumah-rumah tersebut terletak di Jalan Tunjung.


Akan tetapi, keadaan berbalik ketika memasukki tahun 1948, masalah perumahan kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah. Masalah tersebut memicu dibentuknya Jawatan Perumahan Rakyat pada 1 Januari 1951. Lembaga tersebut dibentuk untuk mengatasi masalah pemukiman ataupun perumahan. Hal yang dilakukan adalah melakukan pembangunan rumah dengan norma minimum, yaitu rumah induk dengan dua kamar. Sebagai contoh, sepanjang Jalan Soka merupakan rumah yang dibangun oleh Jawatan Perumahan Rakyat.


Tiga tahun berselang, sehubungan dengan didirikannya Universitas Gadjah Mada, yang menyebabkan semakin bertambahnya mahasiswa, UGM merencanakan untuk mendirikan asrama mahasiswa. Salah satu asrama tersebut didirikan di Kampung Baciro, Asrama Dharma Putra Baciro diresmikan oleh Soekarno pada 1954. Pembangunan asrama ini tidak terlepas dari bantuan yang diberikan oleh Kementrian Pekerjaan Umum dan Tenaga, Kementrian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan, Kementrian Keuangan, serta dana dari pihak yayasan.


Penulis: Dhita Fitria Hernawati

Editor: Moch Akmal Prantiaji W



Kepustakaan

Koran dan Buku Sezaman


De Locomotief, terbit pada 28 Juli 1933.


De Locomotief, terbit pada 7 Februari 1936.


Hunsel, J.H.F.E. van. 1936. De uitroeiing van de cholera en de strijd tegen de pokken in Nederlandsch-Indie met eenige epidemiologische beschouwingen betreffende in Nederland voorgekomen pokkenepidemieen.


Buku dan Artikel Jurnal


Agus, Triyono. 2012. “Perkembangan Pola Pemukiman Baciro Tahun 1890-1960”. Skripsi. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.


B, Adji Murtomo. “Arsitektur Kolonial Kota Lama Semarang”, Jurnal Ilmiah Perancangan Kota dan Permukiman. Vol. 7. No. 2. 2008. hlm. 69.


Colombijn, Freek, dkk. 2019. Kota Lama Kota Baru: Sejarah Kota-Kota di Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Ombak.


Djoko, Soekiman. 2000. Kebudayaan Indis dan Gaya Hidup Masyarakat Pendukungnya di Jawa Abad XVIII-Medio Abad XX. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.


H.T, Wahyu. 2011. Pelestarian dan Pemanfaatan Bangunan Indis di Kawasan Kotabaru. Tesis. Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.


Ilham, Daeng Makkelo. “Sejarah Perkotaan: Sebuah Tinjauan Historiografis dan Tematis. Lensa Budaya. Vol. 12. No. 2. Oktober 2017. hlm. 86-87.


Kuntowijoyo. 2013. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.


Manggar, Sari Ayuati dan Bakti Utama. 2021. Bangunan-Bangunan Indis di Kota Yogyakarta. Yogyakarta: Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.


Meer, Arnout H.C. van der. “Performing Colonial Modernity: Fairs, Consumerism, and the Emergence of the Indonesian Middle Classes”. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde. Vol. 173. No. 4. 2017. hlm. 510-511.


Nur, Aini Sulistyowati dan Heri Priyatmoko. 2019. Toponimi Kota Yogyakarta. Jakarta: Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


Resti, Eka Prastiwi. “Sejarah Perkembangan Arsitektur Bangunan Indis di Purworejo Tahun 1913-1942”. Journal of Indonesian History. Vol. 8. No. 1. 2019. hlm. 93.


Sartono, Kartodirdjo, dkk. 1993. Perkembangan Peradaban Priyayi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.


Website


Anonim, “Gambaran Umum Kelurahan Baciro”, bacirokel.jogjakota.go.id/page/index/gambaran-umum, diakses pada 06 Juli 2022, pukul 06.54 WIB.

 
 
 

Comments


bottom of page